Seberapa besar Anda menghargai diri sendiri? Jika belum, ambillah waktu sebentar dan lakukan sesuatu yang baik untuk diri sendiri.
1. Sediakan waktu. Menyediakan waktu untuk diri sendiri akan membuat pikiran segar kembali. Bahkan, menyediakan lima menit hanya untuk menutup mata dan memfokuskan pikiran dapat membantu Anda merasa lebih baik. Namun, akan lebih baik bila Anda bisa menyediakan waktu yang lebih banyak untuk memfokuskan pikiran pada diri sendiri dan apa yang perlu dilakukan.
2. Lakukan sesuatu yang baik untuk tubuh. Memang mudah mengabaikan kesakitan yang dirasakan tubuh dan lupa untuk mengurus diri sendiri. Cobalah berendam di air panas yang dicampur garam atau mintalah seseorang untuk memeluk. Bisa juga cobalah berdiri dan lakukan peregangan.
3. Buat diri sendiri merasa nyaman. Misalnya dengan menelepon teman atau minum teh hangat, tidur dengan bantal dan selimut yang nyaman, menulis buku harian, makan sesuatu yang disukai, mencium bau minyak aromaterapi seperti vanila, lavender, dan lain-lain.
4. Pergi ke dunia lain. Caranya adalah dengan membaca buku, menonton film, atau biarkan pikiran mengalir ke mana pun ia pergi.
5. Melakukan sesuatu yang konyol. Ini akan membawa keluar jiwa kanak-kanak yang ada dalam kepribadian kita dan memberi perasaan bahagia. Misalnya bermain busa sabun, membuat kue, mengamati awan dan mereka-reka bentuknya, serta bermain dengan hewan peliharaan atau otopet.
6. Cuti sehari. Apalagi bila Anda sudah merasa jenuh dengan pekerjaan sehari-hari. Ambil cuti sehari dan lakukan apa pun yang ingin dilakukan seharian penuh. Ini lebih baik daripada sehari di akhir pekan.
7. Jalan-jalan di tengah alam terbuka. Kadang kita lupa memperhatikan dunia yang terbentang di sekitar. Mengamati alam akan membuat kita merasa lebih enak dan kalem. Berjalanlah di taman. Amati dan pandanglah pohon, rumput, langit, kemudian bernapaslah.
8. Melakukan sesuatu yang sudah lama ingin Anda kerjakan. Mengapa menundanya lagi? Lekas kerjakan dan Anda akan merasa lebih baik.
sumber: kompas
Tampilkan postingan dengan label kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Mei 2011 -
artikel,
kebahagiaan,
kepribadian,
lifestyle
0
komentar
artikel,
kebahagiaan,
kepribadian,
lifestyle
0
komentar
8 Cara Menghargai Diri Sendiri
Kamis, 06 Januari 2011 -
artikel,
kebahagiaan,
kehidupan,
Kesehatan,
life style
0
komentar
artikel,
kebahagiaan,
kehidupan,
Kesehatan,
life style
0
komentar
Warisan di Balik Bentuk Tubuh
Coba kumpulkan foto ibu kita mulai dari beliau belia hingga usia lanjut seperti sekarang. Amati bagaimana tubuhnya berubah. Mengapa pengamatan ini menjadi penting, karena penelitian yang dilakukan Universitas Harvard mengungkapkan, foto yang bercerita mengenai perubahan bentuk ibu itu akan memberikan gambaran bagaimana bentuk tubuh kita nantinya.
Penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Obesity ini juga menemukan fakta, pemilik tubuh apel ternyata lebih sering mewariskan bentuk tubuhnya kepada anak-anak perempuannya. Jadi apabila ibu kita memiliki kecenderungan menumpuk lemak pada perut, maka kita berpeluang lebih besar untuk ikut memiliki bentuk tubuh apel.
Apabila kondisi ini dilihat secara ilmu kesehatan, kita juga berisiko untuk mengidap diabetes serta gangguan pada arteri jantung. Sebab lemak pada perut mengeluarkan enzim yang bisa mengacaukan produksi insulin serta kelancaran kerja pembuluh darah.
Adalah Prof C. Ronald Kahn, MD, dan timnya yang melakukan penelitian tersebut. Penelitian Kahn juga mengungkapkan, genetika juga memengaruhi proses pembentukan otot pada tubuh. Orang yang memiliki gen pembentuk otot, intensitas olahraganya tak perlu melakukan olah fisik yang berat. Sebab gen yang diwariskan membuat proses pembakaran lemak lebih cepat, plus pembentukan otot lebih mudah.
“Gen juga yang mempengaruhi seberapa besar kesukaan kita pada makanan. Gen neurexin 3 adalah salah satu dari tiga gen yang memengaruhi lingkar pinggang,” ucapnya seraya memaparkan gen ini juga membuat seseorang mudah sekali memiliki kebiasaan adiktif seperti kecanduan terhadap alkohol atau rokok. Penelitian menyebutkan ada sebanyak 20 persen orang dalam populasi dunia yang memiliki gen ini. “Ini bisa menjadi salah satu penyebab mengapa obesitas terus meningkat dalam keluarga yang berbobot besar.”
Hal ini diamini oleh Kari E. North, PhD, asisten profesor epidemologi dari University of North Carolina. Plus, tambah North, pada mereka yang mengalami obesitas karena faktor keturunan ada sisi psikologis yang sangat sensitif dan seringnya membuat gagal program penurunan berat badan. North menyontohkan, mereka yang sudah sangat disiplin menurunkan berat badan akan kelelahan jika faktor genetik kemudian menggagalkan program diet.
“Karena tubuh sudah punya standar berapa banyak lemak yang bisa dibuang dan ketika kita berada di bawah standar, tubuh akan memberontak dengan mengatakan kita kekurangan makanan, dan dari sinilah semua lingkaran makan berlebih kembali dimulai,” katanya.
Apa ini berarti, pemilik bobot berlebih yang karena faktor genetik tak bisa berbuat banyak? “Jangan terlalu cepat menyimpulkan,” North coba menyemangati. Sebab meskipun faktor genetika memainkan peran penting, tapi jika mendampinginya dengan lingkungan yang sehat, maka pada level ini kita sudah melakukan rekayasa genetika.
Sementara itu Kahn menyebutkan, perubahan pola konsumsi dengan lingkungan yang membuat kita mudah menumpuk lemak, adalah faktor yang membuat angka obesitas naik dua kali lipat. “Karena secara logika, genetik ini sudah ada dari tahun ke tahun. Tapi dengan adanya perubahaan gaya hidup di seluruh dunia, akhirnya obesitas menjadi masalah semua orang.”
Maka jika kita masuk dalam keluarga dengan genetika berbobot besar, Kahn memberikan solusi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Buatlah kebiasaan dan lingkungan yang sehat. Sudah pasti yang dimaksud dengan kebiasaan, tambah Kahn, adalah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan berolahraga. Sedangkan untuk lingkungan, lakukanlah seluruh aktivitas kita dengan memberikan peluang yang cukup besar bagi penerapan hidup sehat.
“Kurangi penggunaan eskalator atau lift, jauhi junk food, dan motivasi seluruh anggota keluarga kita untuk menjalani hidup sehat. Jika semuanya sudah berkomitmen untuk kualitas hidup yang lebih baik, maka tak ada lagi keluhan mengapa berat badan tak kunjung susut,” ucap Kahn antusias.
(Prevention Indonesia Online/Siagian Priska)
Penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Obesity ini juga menemukan fakta, pemilik tubuh apel ternyata lebih sering mewariskan bentuk tubuhnya kepada anak-anak perempuannya. Jadi apabila ibu kita memiliki kecenderungan menumpuk lemak pada perut, maka kita berpeluang lebih besar untuk ikut memiliki bentuk tubuh apel.
Apabila kondisi ini dilihat secara ilmu kesehatan, kita juga berisiko untuk mengidap diabetes serta gangguan pada arteri jantung. Sebab lemak pada perut mengeluarkan enzim yang bisa mengacaukan produksi insulin serta kelancaran kerja pembuluh darah.
Adalah Prof C. Ronald Kahn, MD, dan timnya yang melakukan penelitian tersebut. Penelitian Kahn juga mengungkapkan, genetika juga memengaruhi proses pembentukan otot pada tubuh. Orang yang memiliki gen pembentuk otot, intensitas olahraganya tak perlu melakukan olah fisik yang berat. Sebab gen yang diwariskan membuat proses pembakaran lemak lebih cepat, plus pembentukan otot lebih mudah.
“Gen juga yang mempengaruhi seberapa besar kesukaan kita pada makanan. Gen neurexin 3 adalah salah satu dari tiga gen yang memengaruhi lingkar pinggang,” ucapnya seraya memaparkan gen ini juga membuat seseorang mudah sekali memiliki kebiasaan adiktif seperti kecanduan terhadap alkohol atau rokok. Penelitian menyebutkan ada sebanyak 20 persen orang dalam populasi dunia yang memiliki gen ini. “Ini bisa menjadi salah satu penyebab mengapa obesitas terus meningkat dalam keluarga yang berbobot besar.”
Hal ini diamini oleh Kari E. North, PhD, asisten profesor epidemologi dari University of North Carolina. Plus, tambah North, pada mereka yang mengalami obesitas karena faktor keturunan ada sisi psikologis yang sangat sensitif dan seringnya membuat gagal program penurunan berat badan. North menyontohkan, mereka yang sudah sangat disiplin menurunkan berat badan akan kelelahan jika faktor genetik kemudian menggagalkan program diet.
“Karena tubuh sudah punya standar berapa banyak lemak yang bisa dibuang dan ketika kita berada di bawah standar, tubuh akan memberontak dengan mengatakan kita kekurangan makanan, dan dari sinilah semua lingkaran makan berlebih kembali dimulai,” katanya.
Apa ini berarti, pemilik bobot berlebih yang karena faktor genetik tak bisa berbuat banyak? “Jangan terlalu cepat menyimpulkan,” North coba menyemangati. Sebab meskipun faktor genetika memainkan peran penting, tapi jika mendampinginya dengan lingkungan yang sehat, maka pada level ini kita sudah melakukan rekayasa genetika.
Sementara itu Kahn menyebutkan, perubahan pola konsumsi dengan lingkungan yang membuat kita mudah menumpuk lemak, adalah faktor yang membuat angka obesitas naik dua kali lipat. “Karena secara logika, genetik ini sudah ada dari tahun ke tahun. Tapi dengan adanya perubahaan gaya hidup di seluruh dunia, akhirnya obesitas menjadi masalah semua orang.”
Maka jika kita masuk dalam keluarga dengan genetika berbobot besar, Kahn memberikan solusi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Buatlah kebiasaan dan lingkungan yang sehat. Sudah pasti yang dimaksud dengan kebiasaan, tambah Kahn, adalah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan berolahraga. Sedangkan untuk lingkungan, lakukanlah seluruh aktivitas kita dengan memberikan peluang yang cukup besar bagi penerapan hidup sehat.
“Kurangi penggunaan eskalator atau lift, jauhi junk food, dan motivasi seluruh anggota keluarga kita untuk menjalani hidup sehat. Jika semuanya sudah berkomitmen untuk kualitas hidup yang lebih baik, maka tak ada lagi keluhan mengapa berat badan tak kunjung susut,” ucap Kahn antusias.
(Prevention Indonesia Online/Siagian Priska)
Rabu, 27 Oktober 2010 -
artikel,
bersyukur,
cerita,
kebahagiaan,
kehidupan,
lolipop,
motivasi,
permen,
relationship
0
komentar
artikel,
bersyukur,
cerita,
kebahagiaan,
kehidupan,
lolipop,
motivasi,
permen,
relationship
0
komentar
Lembah Lolipop
A
lkisah ada dua anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang berjalan di jalan setapak beraspal pada suatu lembah. Uniknya, di kiri-kanan jalan, terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka. Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop, yang disimpannya dalam tas karung. Ia begitu sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut, tapi sepertinya tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.
Tanpa terasa Bob telah sampai di ujung jalan lembah. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di bawah gerbang, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob,
"Bagaimana perjalananmu di lembah lolipop ? Apakah permen-permennya lezat ? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk ? Itu rasa yang paling disenangi, atau kamu lebih menyukai rasa mangga ? Itu juga sangat lezat"
Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Bob terkejut, dengan lesu ia menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan !"
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
"Hai, Bob ! kamu jalan cepat sekali ! saya panggil-panggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya"
"Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob.
"Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen rasa anggur, rasanya lezat sekali ! saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali !" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.
"Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan, saya temani dia berjalan, saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya, kami makan bersama dan dia banyak bercerita hal-hal yang lucu, kami tertawa bersama…!" Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah itu. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Iapun sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas
karungnya.
Di akhir perjalanannya, Bob menyadari suatu hal, ia bergumam kepada dirinya sendiri,
"Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi seharusnya bagaimana saya bisa menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia"
Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali"
Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu, Bob dan Bib harus melanjutkan kembali perjalanannya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.
Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia ?
Jika saya bertanya kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab,
"Saya akan bahagia nanti..., nanti pada waktu saya sudah menikah...”
“…., nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri...”
“…, nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya...”
“…, nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya...”
“…, nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
“…, nanti…, nanti…, nanti…..”
Pemikiran nanti itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa nanti bahagia.
Jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa nanti bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai ke masa nanti bahagia itu.
Ritme hidup yang sangat cepat, target tinggi yang harus kita capai. Dan yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu !!!
Tetap saja, semuanya itu tidak pernah memuaskan dan membahagiakan.
Uniknya lagi, di kala kita melambatkan ritme kehidupan - pada saat kita duduk menikmati keindahan senja, atau ketika kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, atau di saat makan malam bersama keluarga - , kita merasa hidup menjadi lebih indah. . . . .
Bila saja kita mau melambatkan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran - melambatkan ritme makan kita, ritme jalan dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak, bahkan melambatkan ritme di setiap hembusan nafas - maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang indah dan patut untuk disyukuri.
Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan, ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Yang pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.
Koleksi : Artikel Rohani
Penulis : tak dikenal
Editing : gunawan
Tanggal : 03 Nov 2009
regards, yatik
Langganan:
Postingan (Atom)


