Tak semua perempuan mau berkomitmen dalam menjalani hubungan berpasangan. Pilihan ini kembali kepada pribadi yang dipengaruhi berbagai hal dalam pengalaman hidupnya. Teman tapi mesra pun kemudian menjadi pilihan dalam berhubungan. Perilaku ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi lebih pada pilihan orang dewasa yang sudah memahami dan menerima berbagai konsekuensinya.
Kisah teman tapi mesra (TTM) dalam film No Strings Attached menggambarkan pilihan sikap ini. Adam (Ashton Kutcher) dan Emma (Natalie Portman) yang berstatus lajang memilih gaya hubungan berpasangan ini. Bukan hal yang mudah bertahan sebagai TTM yang dilarang cemburu, selalu ingin tahu, apalagi berkomitmen. Pergulatan emosi sangat mungkin terjadi dalam menjalani hubungan yang tak selamanya mudah ini. Namun, ini terjadi dalam film. Sebuah naskah yang ditulis dengan menarik, nakal, dan humoris oleh Elizabeth Meriwether. Lantas bagaimana dengan kehidupan nyata?
Rima (25, bukan nama sebenarnya), profesional muda, mengaku menikmati menjalani hubungan TTM dengan sahabat masa sekolahnya selama 10 tahun terakhir. "TTM adalah pilihan hidup seseorang, pilihan personal, tetapi risiko tanggung sendiri," katanya.
Aturannya jelas, kata Rima, tidak boleh jatuh cinta, termasuk tidak boleh cemburu, selalu ingin tahu kegiatan pasangan setiap hari, dan berbagai perilaku hubungan percintaan dengan komitmen pada umumnya.
Alasan TTM beragam, mulai adanya kesamaan kegemaran, kedekatan yang bikin keduanya merasa klop (terutama yang berawal dari pertemanan atau persahabatan), mengusir kebosanan dari rutinitas harian, aktivitas spontan yang bikin hidup lebih berwarna, sampai berbagai kesenangan dan sensasi lain yang dinikmati pasangan TTM-an.
"Kegiatan bersama TTM kemudian menjadi kebiasaan. Selama keduanya punya waktu dan alasan kepada pasangan masing-masing," ujar Rima, yang juga menjalani kehidupan pernikahan.
Menjaga rahasia agar tak kepergokSeseorang yang menjalani hubungan TTM harus pintar menjaga rahasia dan berbagai aktivitas tersembunyinya, terutama bagi seseorang yang punya komitmen berhubungan. Kerahasiaan inilah yang menjadi pertimbangan bagi Vena (29, bukan nama sebenarnya), karyawan swasta, untuk tidak memilih terjebak dalam hubungan TTM. "Ribet kayaknya, dan takut ketahuan, ah, nantinya," katanya.
Sementara Rima punya pengalaman berbeda. Teman atau keluarga mengenal pasangan TTM-nya, tetapi sama sekali tak mencurigai hubungannya dengan pasangan TTM-nya ini. "Hanya sahabat saya dan sahabat dia yang mengetahui hubungan TTM ini," ujarnya.
Menghabiskan waktu dan uang"TTM spends time and money," ucap Rima. Bagaimanapun, hubungan TTM membutuhkan aktivitas bersama yang menuntut waktu dan biaya. Alhasil, perlu dana ekstra untuk menjalani hubungan tanpa komitmen ini. Jangan heran pengeluaran membengkak karena kebiasaan atau perilaku TTM-an seperti ini. Meski demikian, kata Rima, menjalani TTM membuat dirinya merasa memiliki sisi kehidupan lain yang bikin tambah bergairah.
Konsekuensinya, bertahan berhubungan dengan teman, mesra tetapi tanpa pernah menghadirkan cinta, atau mengakhirinya saat sudah mulai ada cinta, baik dengan berani melupakan atau justru memilih berkomitmen dengannya. Kembali, ini adalah pilihan yang teramat personal.
Sumber: Kompas Female
Tampilkan postingan dengan label relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label relationship. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Februari 2011 -
artikel,
friendship,
kehidupan,
life style,
relationship,
TTM
0
komentar
artikel,
friendship,
kehidupan,
life style,
relationship,
TTM
0
komentar
Sampai Kapan TTM Bisa Bertahan?
Rabu, 27 Oktober 2010 -
artikel,
bersyukur,
cerita,
kebahagiaan,
kehidupan,
lolipop,
motivasi,
permen,
relationship
0
komentar
artikel,
bersyukur,
cerita,
kebahagiaan,
kehidupan,
lolipop,
motivasi,
permen,
relationship
0
komentar
Lembah Lolipop
A
lkisah ada dua anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang berjalan di jalan setapak beraspal pada suatu lembah. Uniknya, di kiri-kanan jalan, terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka. Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop, yang disimpannya dalam tas karung. Ia begitu sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut, tapi sepertinya tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.
Tanpa terasa Bob telah sampai di ujung jalan lembah. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di bawah gerbang, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob,
"Bagaimana perjalananmu di lembah lolipop ? Apakah permen-permennya lezat ? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk ? Itu rasa yang paling disenangi, atau kamu lebih menyukai rasa mangga ? Itu juga sangat lezat"
Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Bob terkejut, dengan lesu ia menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan !"
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
"Hai, Bob ! kamu jalan cepat sekali ! saya panggil-panggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya"
"Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob.
"Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen rasa anggur, rasanya lezat sekali ! saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali !" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.
"Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan, saya temani dia berjalan, saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya, kami makan bersama dan dia banyak bercerita hal-hal yang lucu, kami tertawa bersama…!" Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah itu. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Iapun sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas
karungnya.
Di akhir perjalanannya, Bob menyadari suatu hal, ia bergumam kepada dirinya sendiri,
"Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi seharusnya bagaimana saya bisa menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia"
Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali"
Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu, Bob dan Bib harus melanjutkan kembali perjalanannya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.
Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia ?
Jika saya bertanya kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab,
"Saya akan bahagia nanti..., nanti pada waktu saya sudah menikah...”
“…., nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri...”
“…, nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya...”
“…, nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya...”
“…, nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
“…, nanti…, nanti…, nanti…..”
Pemikiran nanti itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa nanti bahagia.
Jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa nanti bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai ke masa nanti bahagia itu.
Ritme hidup yang sangat cepat, target tinggi yang harus kita capai. Dan yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu !!!
Tetap saja, semuanya itu tidak pernah memuaskan dan membahagiakan.
Uniknya lagi, di kala kita melambatkan ritme kehidupan - pada saat kita duduk menikmati keindahan senja, atau ketika kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, atau di saat makan malam bersama keluarga - , kita merasa hidup menjadi lebih indah. . . . .
Bila saja kita mau melambatkan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran - melambatkan ritme makan kita, ritme jalan dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak, bahkan melambatkan ritme di setiap hembusan nafas - maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang indah dan patut untuk disyukuri.
Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan, ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Yang pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.
Koleksi : Artikel Rohani
Penulis : tak dikenal
Editing : gunawan
Tanggal : 03 Nov 2009
regards, yatik
-
artikel,
bakat,
cerita,
coca-cola,
lingkungan,
motivasi,
nilai diri,
pabrik,
relationship
0
komentar
artikel,
bakat,
cerita,
coca-cola,
lingkungan,
motivasi,
nilai diri,
pabrik,
relationship
0
komentar
Nilai Diri
Ane bukannya bermaksyud of kamsyud ngiklan Gan (kagak da untungnya, orang ane juga kagak dapet royalti pun!). Just sekedar share aja Gan. Cekibrot deh.
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin
dan dijual dengan harga Rp. 7.500.
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah.
Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana .
Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas.
Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Sekarang, pertanyaannya adalah :
Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda
padahal diproduksi dari pabrik yang sama,
diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?
Lingkungan mencerminkan harga.
Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.
(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda =
NILAI YANG BERBEDAregards, yatik
Ada 3 kaleng coca cola,
ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba hari,
sebuah truk datang ke pabrik mengangkut kaleng-kaleng coca cola
dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian
sebuah truk datang ke pabrik mengangkut kaleng-kaleng coca cola
dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian
Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal.
Kaleng coca cola pertama di turunkan disini.
Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya
dan diberi harga Rp. 4.000.
Kaleng coca cola pertama di turunkan disini.
Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya
dan diberi harga Rp. 4.000.
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin
dan dijual dengan harga Rp. 7.500.
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah.
Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana .
Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas.
Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika keluarkan,
kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es.
Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu,
menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan.
Harganya Rp. 60.000.
kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es.
Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu,
menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan.
Harganya Rp. 60.000.
Sekarang, pertanyaannya adalah :
Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda
padahal diproduksi dari pabrik yang sama,
diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?
Lingkungan mencerminkan harga.
Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.
Apabila berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari dalam diri,
maka akan menjadi cemerlang.
Tapi bila berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri
maka akan menjadi kerdil.
maka akan menjadi cemerlang.
Tapi bila berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri
maka akan menjadi kerdil.
(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda =
NILAI YANG BERBEDA
Langganan:
Postingan (Atom)


