Tampilkan postingan dengan label perancangan sistem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perancangan sistem. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Mei 2012 - , , , , 0 komentar

TAHAP PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA

Terdiri dari: 

- Fondasi
- Informasi dasar
- Perancangan
- Penerapan 
- Penyegaran

TAHAP 0: FONDASI

4 fondasi dalam mengembangkan sistem manajemen kinerja yaitu: kemitraan,   pemberdayaan,   perbaikan kinerja yang terintegrasi,   dan tim yang mandiri

5 kaidah perancangan sistem manajemen kinerja:mudah dimengerti,  berorentasi jangka panjang,  berdasarkan basis waktu,  fukus pada perbaikan berkelanjutan, dan menggunakan pendekatan kuantitatif

TAHAP 1: INFORMASI DASAR

Sebagai masukan dalam perancangan Sistem Manajemen Kinerja menyangkut lingkungan usaha yang saat ini sedang digeluti

Mencakup informasi tentang 
     industri, pemerintah dan masyarakat,( contoh : Kasus perusahaan tekstil di Bandung )
     pasar dan pesaing , serta
     produk dan jasa .

TAHAP 2: PERANCANGAN

Penentuan: 
- Visi
- Misi
- Strategi
- Kerangka kerja
    - Variabel Kinerja
    - Keterkaitan
    - Kaji Banding.

TAHAP 3: PENERAPAN

Menerapkan rancangan yang mencakup: display, laporan, sosialisasi, analisis manfaat/biaya, modifikasi proses, pelatihan, sumber daya dan kedudukan SMK saat ini terhadap SMK yang baru
 dengan perangkat pendukung
    4 pilar utama: Pengukuran kinerja,  evaluasi hasil pengukuran, diagnose identivikasi proses pengukuran dan tindak lanjut yang harus dilakukan

TAHAP 4: PENYEGARAN

Merupakan langkah evaluasi terhadap sistem manajemen kerja yang dirancang.



DASAR PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA

Harus dapat mengakomodasikan sistem operasi dari sebuah perusahaan

7 KRITERIA MASKELL(1981):
  1. SMK yang dirancang  hendaknya  berkaitan langsung dengan strategi perusahaan.
  2. Variabel sebaiknya diukur menggunakan ukuran nonfinansial
  3. SMK harus fleksibel dan dapat  bervariasi tergantung dari lokasi perusahaan
  4. SMK yang dirancang harus bersifat dinamis, selalu diperbarui seiring perubahan waktu
  5. SMK yang dirancang harus sesederhana mungkin dan mudah dioperasikan
  6. SMK tersebut harus dimungkinkan adanya umpan balik yang cepat bagi operator dan manajer yang bertanggung jawab, agar dapat diambil tindakan segera mungkin untu perbaikan.
  7. SMK yang dirancang harus ditujukan untk proses perbaikan, bukan sekedar untuk pemantauan.

7 kriteria Globerson (1996):
  1. Kriteria kinerja yang akan diukur dalam setiap level organisasi harus berasal dari tujuan perusahaan.
  2. SMK yang dirancang harus memungkinkan untuk digunakan sebagai  alat membandingkan  antar perusahaan sejenis.
  3. Tujuan perancangan SMK harus didefinisikan dengan jelas dari sejak awal
  4. Metode pengumpulan dan pengolahan data yang akan digunakan dalam SMK harus didefinisikan dengan jelas.
  5. Dalam menentukan besaran variabel, penggunaan rasio variabel lebih disukai dibanding penggunaan angka absolut.
  6. Kriteria kinerja yang dirancang harus dibawah kendali unit organisasi yang berhak mengevaluasi.
  7. Kriteria kinerja kuantitatif lebih disukai daripada kualitatif.